TANGGUNG JAWAB TERHADAP LINGKUNGAN SEBAGAI BENTUK KEIMANAN KITA KEPADA ALLAH SWT
Tanggung jawab merupakan suatu sikap di mana setiap individu memiliki kewajiban menanggung segala sesuatu terhadap sebuah kejadian, baik itu kejadian yang timbul karena diri sendiri ataupun orang lain, termasuk resiko yang mungkin akan terjadi. Tidak hanya sikap, tetapi tanggung jawab juga berupa perilaku atau kerja nyata.
Tanggung jawab juga dapat dikatakan suatu keberanian. Karena seseorang yang bertanggung jawab berarti berani untuk menanggung resiko. Pada dasarnya, rasa tanggung jawab muncul berkat timbulnya kesadaran diri sendiri. Manusia sebagai makhluk sosial tentunya memiliki banyak hal yang harus ditanggung dalam setiap aspek kehidupannya, baik itu bagi dirinya maupun orang lain. Rasa tanggung jawab bergantung pada hubungan yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
Maksud dari hubungan yang dibuat ini adalah hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan dan hubungan horizontal antara sesama manusia atau lingkungan sekalipun. Sejatinya, semua bentuk tanggung jawab dimulai dari bertanggung jawab terhadap diri sendiri, karena ketika seseorang telah mampu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, maka dengan mudah ia akan bertanggung jawab terhadap berbagai aspek kehidupan lain yang ada di sekelilingnya.
Iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan yang nyata.
Yang pertama adalah Al-Qur’an Surat Shad (38): 27-28 berikut ini yang menerangkan bahwa Allah menciptakan bumi, langit dan di antara keduanya dengan baik. Penciptaan alam semesta ini telah didesain sedemikian rupa agar manusia dapat memanfaatkan dan menikmatinya secara maksimum.
Hanya orang-orang yang kufur (mengingkari) nikmat Allah sajalah yang berburuk sangka terhadap apa yang diciptakan oleh Allah sehingga Allah marah dan menyumpah mereka masuk ke dalam neraka. Sementara mereka yang beriman dan beramal saleh atau orang-orang yang bertakwa akan diperlakukan secara berbeda dari mereka yang kufur. Yaitu mereka akan masuk surga yang nyaman, sebagai bentuk ke-Maha adilan Allah.
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ (27) أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الأرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ (28)
”… dan Kami tidak menciptakan tangit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?”
( QS. Shad 27-28 )
Dari ayat tersebut di atas dapat diambil pelajaran bahwa hendaknya kita berbaik sangka, tidak berburuk sangka kepada Allah, atas segala yang diciptakan-Nya di muka bumi ini. Yaitu bahwa Allah telah menciptakan alam ini untuk kenyamanan dan kesejahteraan manusia. Sehingga kita hendaknya beriman kepada Allah dan berbuat baik di muka bumi ini.
Berbuat baik disini contohnya adalah dengan menanam pohon, menikmati hasilnya dan tidak rakus mengeksploitasi alam secara berlebihan.
Banyak sekali bencana alam yang telah terjadi di Indonesia diantaranya yaitu Banjir, gempa bumi, longsor, jatuhnya pesawat, dan masih banyak lagi.
Menurut saya, Kerusakan ini umumnya disebabkan oleh aktivitas manusia yang tidak ramah dengan lingkungan serta tidak bisa melestarikannya dengan baik. Maka dari itu kita sebagai manusia harus bisa menjaga dengan sebaik-baiknya agar lingkungan kita tetap sehat dan tidak ada lagi kerusakan yang terjadi di bumi ini.
Mantapp syekaliiiiii panjanggg hulaff maca🤣
BalasHapusBudayakan membaca bund:v
Hapus